Bagaimana Shutterstock Membantu Perusahaan Media Selama Pandemi COVID-19

Bagi media massa, gambar merupakan komponen penting dalam setiap publikasi. Bukan sekadar sebagai pemanis, gambar juga punya daya untuk menguatkan kebenaran dan kualitas konten pada benak setiap penikmat berita.

Quick Sprout mencatat, konten-konten yang disertai gambar, rata-rata 94% lebih banyak dilihat ketimbang konten tanpa gambar.

Apalagi, sasaran media massa hari ini adalah Generasi Milenial dan Generasi Z. Dalam statistik yang Visenze himpun, 64% orang dari dua generasi ini senang mencari konten visual.

Lalu, bagaimana Shutterstock membantu perusahaan media selama pandemi Covid-19? Apa peran salah satu pusat stok foto paling besar di dunia ini dalam menjaga keberlangsungan media massa?

Problem Perusahaan Media selama Pandemi

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan perubahan pada banyak hal. Hampir semua lini kehidupan, mendapatkan imbas dari wabah ini. Tak terkecuali, media massa.

Setidaknya ada dua masalah besar yang ditangkap oleh Stan Palovski, CEO Shutterstock.

Dalam tulisannya di kolom jaringan kolumnis Adweek, ia mengungkapkan isi kepalanya.

Tantangan pertama bagi media massa, menurutnya adalah meningkatnya cuti dan potensi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Ini sebagai imbas dari kebijakan pengiklan sebagai sumber income media massa yang mungkin mengurangi anggarannya.

“Ketika pengiklan gugup menarik anggaran mereka selama pandemi, tantangan bisnis terkenal organisasi media menjadi lebih buruk, yang mengarah pada cuti dan bahkan PHK,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti problem operasional terkait pengiriman fotografer. Pengaturan interaksi yang lebih ketat membuat proses kerja fotografer tak lagi seleluasa dulu ketika pandemi Covid-19 belum terjadi.

“Covid-19 membawa tantangan operasional, seperti protokol yang rumit untuk mengirim reporter dan fotografer ke dunia untuk meliput berita terkini dan trending,” tambah Palovski.

Problem kedua inilah yang lebih spesifik akan kita ulas dalam tulisan ini.

Apa yang Harus Perusahaan Media Lakukan?

Sebagai CEO yang terbiasa berpikir sebagai problem solver, Stan Palovski tidak hanya berbicara masalah.

Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin tertinggi di Shutterstock, Palovski menawarkan upaya yang perlu Perusahaan Media lakukan.

Menurutnya, setiap perusahaan, terutama klien-klien Shutterstock, perlu melakukan pendekatan baru untuk mendapatkan konten-konten fotografi yang tetap unik.

Jangan sampai justru mengambil jalan simpel menggunakan berbagai foto instan yang tidak eksklusif dan tidak menarik.

“Penerbit dan penyiar—segmen klien utama untuk Shutterstock—membutuhkan pendekatan baru yang dapat diskalakan untuk mengamankan konten unik yang idealnya akan bertahan lebih lama dari pandemi dan memberikan diferensiasi di pasar berita yang ramai,” kata Palovski.

Bagaimana Shutterstock Bisa Membantu Perusahaan Media?

Sudah sejak lama Shutterstock sebenarnya memiliki kategori foto khusus untuk perusahaan media.
Sebagian dari kamu mungkin sudah tahu, bahwa Shutterstock memiliki gudang stok foto khusus yang mereka beri nama stok foto editorial.

Berbeda dengan stok foto komersial, secara lebih spesifik stok editorial memuat jepretan-jepretan terbaik untuk kepentingan media massa. Baik skala kecil, maupun skala besar.

Apa yang ditawarkan Shutterstock dari layanannya ini? Mengacu pada offer yang terdapat pada sales page-nya, ada beberapa penawaran utama dari Shutterstock. Antara lain:

1. Update foto terbaru yang cepat

Setiap hari, Shutterstock menambah sekitar 20 ribu foto bagi penggunanya. Kamu tak mungkin kehabisan pilihan dengan keberlimpahan stok yang unik dari hari ke hari.

2. Konten berkualitas

Meskipun Shutterstock membuka kesempatan fotografer amatir untuk menyumbang karyanya, namun Shutterstock juga membangun kerja sama dengan banyak fotografer kelas dunia.

Beberapa agensi fotografi besar bergabung dengan Shutterstock. Sebut saja Rex, AP, A+E Networks, Conde Nast Collection, European Pressphoto Agency (EPA), dan LIFE.

3. Materi beragam

Konten-konten foto yang ada dalam stok editorial juga sangat variatif. Bukan hanya genre news, ada juga sports, entertainment, dan berbagai arsip foto lainnya.

Keberagaman ini tentu mengakomodir sebagian besar media massa yang menggarap banyak rubrik.

4. Berkesempatan mendapat lebih banyak manfaat dengan Shutterstock Premiere

Pengguna juga dapat meningkatkan akses yang lebih ‘intim’ dengan Shutterstock. Caranya, dengan mendaftar menjadi bagian dari Shutterstock Premiere. Tiga layanan utama yang ditawarkan antara lain:

  • Konten lebih aktual, dengan gambar dan liputan yang bisa live.
  • Alur kerja lebih sederhana dan pencarian terbaik, Shutterstock juga memberikan kesempatan integrasi API dengan pengguna premiere ini.
  • Layanan VIP dengan tim riset konten khusus serta manajemen akun personal.

Semua layanan di atas, sangat relevan dengan kebutuhan perusahaan media selama pandemi Covid-19. Jika kamu mengelola media, Shutterstock pasti meringankan pekerjaanmu.

Peningkatan Layanan Shutterstock Selama Pandemi

Untuk memecahkan masalah yang lebih spesifik sepanjang pandemi, Stan Palovski menyebut bahwa Shutterstock akan melakukan peningkatan kualitas proses. Hal ini meliputi proses pengambilan foto hingga distribusinya untuk perusahaan media yang menjadi kliennya.

“Kami mempercepat peluncuran Ruang Berita kami sendiri, memanfaatkan jaringan kami yang terdiri dari 1.000 lebih fotografer editorial untuk meliput berita,” kata Palovski.

Dengan kata lain, Shutterstock bekerja lebih ekstra untuk menghimpun dan mendistribusikan foto.

Selain itu, Shutterstock juga menaruh perhatian lebih dalam terhadap tren di media sosial. Mereka membentuk tim editorial global internal yang secara khusus bertugas full time memantau apa yang sedang hangat di berbagai platform sosial media. Mulai dari tren berita terkini, serius, hingga hiburan.

Apakah Semua Perusahaan Media Membutuhkan Shutterstock?

Jika kamu praktisi media atau baru akan terjun di bidang ini, di media sosial mana kamu akan menyiarkannya?

Di Facebook? Instagram? Youtube? TikTok? Google News? Atau hendak mengoptimalkan SEO di mesin pencari?

Jika mengacu perkembangan berbagai algoritma platform-platform di atas, semuanya mendorong kehadiran konten-konten visual yang menarik.

Terkait hal ini, Socialbakers mencatat, 90% konten paling menarik di berbagai media sosial ternyata adalah konten-konten yang menyertakan gambar.

Bahkan, dalam konteks pemasaran, MGDA Advertising mencatat, press release yang disertai gambar mendapatkan 40% tayangan lebih tinggi ketimbang release yang dibiarkan polos tanpa gambar.

Mengacu pada berbagai statistik di atas, sulit untuk tidak mengatakan bahwa menyertakan foto berkualitas dalam konten media itu wajib. Jadi jelas, Shutterstock sangat kamu butuhkan.

Menghemat Biaya dan Energi

Ketimbang mengupah fotografer secara reguler, menggunakan berbagai gambar premium dari Shutterstock sebenarnya jauh lebih ramah anggaran.

Mengacu data Indeed, gaji rata-rata fotografer di Indonesia ada pada kisaran Rp3.900.000. Dengan membayar uang sebesar itu, kamu mungkin mendapatkan 10 foto per hari.

Padahal, dengan Shutterstock, kamu bisa mendapatkan lebih dari 10 gambar premium atau 350 gambar per bulan, mulai dari 1,4 juta rupiah saja. Murah sekali bukan?

Baca juga: Cara Mudah Beli Foto di Shutterstock

Harga miring ini, bisa kamu dapatkan dengan menggunakan jasa download Shutterstock dari ID Copy.

jasa download Shutterstock dari ID Copy

Dengan bantuan foto-foto terbaik Shutterstock, konten-konten pemberitaan yang situs atau blog kamu publikasikan akan tampak semakin menarik. Potensi peningkatan trafik, sudah pasti mengiringi perkembangan bisnismu.

Jadi, apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Apakah masih ragu untuk mendapatkan bantuan dari Shutterstock untuk peningkatan kualitas bisnis mediamu di masa pandemi?